Kurt Cobain, In Utero, Dan Perempuan


Kita tengah berada di tengah, antara International Womens Day (IWD) dan Hari Kartini, yang tak kalah penting––khususnya bagi kaum perempuan Indonesia. Pada masa pertengahan ini––awal  April seperti sekarang, banyak orang bercanda, terbawa suasana April MOP/April Fool. Saya lebih memilih mendengar lagu April Fool dari Patti Smith––seorang perempuan hebat, paling tidak agar semangat IWD tidak surut sampai datangnya peringatan Hari Kartini. Bagi saya, memupuk semangat itu penting––terutama untuk membuat diri kita benar – benar serius dalam melakukan sesuatu, tidak sekadar ikut merayakan, berselebrasi, dan bla, bla, bla. Sudah berapa Hari Kartini? Tapi kok perempuan seolah tetap ‘jalan di tempat’, dan malah cenderung ‘terseret ke belakang’, khususnya di Sumbawa. Mereka terlalu disibukkan oleh aktualisasi ‘kecantikan’ dan ‘kemolekan’ mereka di beragam sosmed, sebuah fenomena yang menjadi mainstream akibat pengaruh media dan budaya pop. Kegelisahan ini membuat saya kembali ingin ‘menjadi perempuan’, bukan dalam arti melakukan operasi kelamin, tapi lebih kepada berpikir sebagaimana perempuan semestinya berpikir, terkadang bertindak. Sekarang, sebagaimana Simone De Beauvoir, saya pun akan berkata “saya adalah seorang perempuan”[1]. Dalam proses ‘menjadi perempuan’ itu, saya pun menemukan betapa salah satu musisi favorit saya, Kurt Cobain juga pernah melakukan hal yang sama––‘menjadi perempuan’. Mungkin kebetulan juga di pertengahan antara IWD dan Hari Kartini, merupakan hari kematiannya 23 tahun yang lalu (5 April, mayatnya ditemukan 8 april). Untuk mengenang beliau, dan untuk perempuan, saya mencoba menarik benang merah antara keduanya.

Tak perlu disembunyikan, dunia tahu bahwa Kurt Cobain adalah junkie, ia punya masalah dengan narkotika, dan ditambah dengan kepopulerannya pasca dirilisnya album Nevermind, semakin membuat media menyorotnya. Pada masa kehamilan istrinya, Courtney Love, Cobain––juga Love berkali – kali disudutkan oleh media. Salah satu ulasan media yang paling telak datang dari majalah Vanity Fair. Seperti diungkap Cross (2001: 277-278), artikel berjudul “Strange Love: Are Courtney Love––vokalis band postpunk Hole, dan Kurt Cobain––vokalis Nirvana, adalah John dan Yoko versi grunge? Atau Sid dan Nancy baru?” yang ditulis oleh Lynn Hirschberg itu benar – benar mampu membuat gaduh, ia menjadi rujukan banyak media untuk memberitakan persoalan Cobain, Love, dan masalah drugs mereka, MTV salah satunya. Artikel Vanity Fair banyak mengekspos perihal kesehatan bayi yang dikandung Love dan mengaitkannya dengan kecanduan Cobain dan Love selama masa kehamilan Love. Axl Rose (Vokalis band Guns N Roses) di atas panggung bahkan mengatakan: “Kurt Cobain adalah pemadat brengsek dan istrinya juga. Kalau sampai anaknya lahir cacat mereka berdua harus masuk bui.”

Sebenarnya, yang menjadi permasalahan bagi Cobain dan Love saat itu adalah ketakutan mereka akan kemungkinan mereka kehilangan hak asuh atas anak mereka. Ketakutan mereka memang benar terjadi, dua hari setelah kelahiran Frances ––anak mereka, Lembaga Pelayanan Anak Daerah Los Angeles datang ke rumah sakit membawa majalah Vanity Fair. Setelahnya mereka di sidang, dan keputusan pengadilan mewajibkan pasangan Cobain mengasuh anak mereka dengan pengawasan orang lain yang sehat, mengingat kondisi keduanya yang ‘parah’.

Lalu apa kaitannya dengan perempuan? Peristiwa itu ––Vanity Fair dan eksploitasi banyak media atas kecanduan, yang merembet pada hak asuh anak, dijadikan inspirasi lagu oleh Cobain. Ia menambahkan lirik “our favorite inside source (sumber kepercayaan kita)” ke dalam lagu yang sudah ditulis dan tak dimasukkan ke dalam album sebelumnya itu, merekamnya, dan menjadi salah satu trek dalam album In Utero. Lirik “rape me, rape me, my friend,. Rape me, rape me again,.” menunjukkan bahwa Cobain ‘menjadi perempuan’. Merasa tersudut, disudutkan, dan disalahkan,  seperti yang ia akui bahwa ‘lagu itu merupakan penggambaran pribadinya bagaimana dia merasa dipojokkan oleh media, manajernya, anggota Nirvana lainnya, ketergantungannya, dan juga MTV.’ (Cross, 2001: 289). Tersudut, terpojok, seperti perempuan,  Cobain lantas berontak ––lewat lagu yang sama–– dengan kalimat “I am not the only one” dan “our favorite inside source (sumber kepercayaan kita)” yang merupakan sindiran pada orang – orang yang membuka perihal masalah drugs-nya kepada media.

Apa iya Kurt Cobain menjadi perempuan? Perhatikan lirik “rape me,. rape me,. my friend,. rape me,. again,. ” yang ia tulis dengan penuh kesadaran. Kata “rape me” yang berarti “perkosa aku” menunjukkan bahwa posisi Cobain ––yang merupakan penulisnya–– adalah korban perkosaan, dan sangat jarang sekali korban perkosaan adalah laki-laki, 99,99% perempuan. Lirik yang seolah meminta untuk diperkosa ini, juga mengkritik media. Kalau kita mau memeriksa, banyak isi berita perkosaan, justru seolah menyudutkan perempuan/korbannya yang seolah mengundang untuk diperkosa dan lebih banyak lagi penghalusan atas kelakuan pelaku.[2]

Jika kita dapat memahami Cobain yang ‘menjadi perempuan’, tentu kita akan mengerti bahwa ia adalah laki-laki yang ‘tahu’ bagaimana semestinya memperlakukan perempuan. Album In Utero adalah bukti konkritnya. Sebelum mengulas perempuan, Simone De Beauvoir bertanya apa itu perempuan? Salah satu jawaban yang muncul adalah “Tota mulier in utero” yang berarti “perempuan adalah rahim”. Bandingkan dengan album Nirvana, In Utero. Judul album ini diambil dari judul sebuah puisi istri Cobain, Courtney Love. Penghargaan atas perempuan yang ia cintai dan mencintainya.


In UteroTrack List
1. Serve The Servants 2. Scentless Apprentice 3. Heart-Shaped Box 4. Rape Me
5. Frances Farmer Will Have Her Revenge on Seattle 6. Dumb 7. Very Ape 8. Milk It
9. Pennyroyal Tea 10. Radio Friendly Unit Shifter 11. Tourette's 12. All Apologies

Sampul album In Utero sangat jelas perempuan,  menunjukkan tubuh perempuan dengan menampakkan isi daalam tubuh, ditambah dengan sayap, bagi saya ini menegaskan apa yang diungkap Cross (2001), “sebagian besar lagu yang ditulis Kurt pada tahun 1992 dipengaruhi pernikahan.”

Lebih jauh, Cross berpendapat “tidak ada lagu lain dalam album itu (In Utero) yang sebanding Heart-Shaped Box”. Lagu Heart-Shaped Box dan Pennyroyal Tea dalam album In Utero yang bagi Cross merupakan ‘lagu Nirvana paling utuh’ bagi saya ‘memukul balik’ anggapan tentang
perempuan hampir tidak mempunyai sarana untuk menyuarakan isi hatinya; menurut suasana hatinya ia akan melihat perasaannya sendiri dalam pemahaman yang berbeda, dan saat ia menyampaikan pada mereka dengan pasif, sebuah interpretasi tidak akan lebih benar dari yang lainnya. Dalam contoh-contoh yang jarang terjadi ini, di mana ia mempertahankan privilese ekonomi dan sosialnya, misteri pun dibalik, menyatakan bahwa misteri tersebut tidak menyinggung satu jenis kelamin dibandingkan yang lainnya, kecuali menyinggung situasi. Bagi sebagian besar perempuan jalan menuju transendensi dihalangi: karena mereka tidak melakukan apa-apa, mereka gagal membuat dirinya menjadi sesuatu. [De Beauvoir, 1989-1: 369]

Lagu Heart-Shaped Box dan Pennyroyal Tea adalah bukti bahwa perempuan punya sarana untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah perempuan; subjek, bukan objek. Courtney Love adalah “penulis lirik dengan gaya tradisional, kesatuan lirik yang ketat dan tidak begitu suram”. Dia mempengaruhi Cobain menjadi penulis yang lebih teliti, itu yang membuat kedua lagu ini merupakan lagu Nirvana paling utuh. Kedua lagu ini dibuat lebih tekun dari seluruh lagu di album Nevermind yang sebelumnya melejitkan Nirvana. (Cross, 2001).  Lebih jauh, ini menunjukkan bahwa perempuan punya banyak sarana, dan bisa tentu saja, menyuarakan isi hatinya, menjelaskan siapa dirinya sebagai subjek manusia seutuhnya. Kolaboorasi Courtney Love dan Kurt Cobain, bersatunya perasaan dan kreatifitas mereka yang digambarkan ccobain dalam larik “We feed oof each other” dalam lagu Milk It adalah contoh konkrit keberhasilan perempuan lepas dari dominasi.

Milk it, salah satu trek dalam album In Utero juga sedikit menyinggung hubungan Cobain dengan perempuan, khususnya istrinya. Selain “We feed oof each other” yang bagi Cross merupakan bentuk peyatuan rasa dan kreatifitas (2001: 308). Lagu ini juga memuat larik “Her milk is my shit / My shit is her milk ” yang merupakan caranya yang cukup membingungkan dalam menggambarkan hubungannya dengan istrinya. Sebenarnya, larik itu jelas menunjukkan betapa ia mencintai perempuan (istrinya). Larik itu sejatinya berasal dari salah satu suratnya untuk Courtney yang ia tulis ketika menjalani rehabilitasi:
Rosewater, aroma popok. Gunakan imajinasimu. Berbicara menggunakan lidah dan pipi. Hey, kekasih, hilangkan racun. Aku sedang berada dalam kotak Kraut-ku, dukung aku dalam penyembuhanku. Agak lapar dan gemuk. Pencernaanku rusak. Kujual tubuhku tiap malam di rumah yang penuh. Kujual dalam kelam di atas kasur, merindukanmu lebih dari lagu Air Supply. Boneka panggang. Matang....Susumu begitu hangat. Susumu adalah spermaku. Spermaku adalah susumu. Aku menderita sindrom orang kerdil. Aku kehabisan kata-kata. Aku kehabisan gigi. Kamu telah mencabut geraham-ku. Ibuku adalah peri gigi. Kau memberiku kelahiran dan gigi palsu dan taring. Aku mencintaimu lebih dari peri gigi. [dalam Cross, 2001: 283]

Heart-Shaped Box adalah karya yang selain terpengaruh Courtney, juga dipersembahkan untuk Courtney. Judul lagu ini mengacu pada kotak hadiah pemberian Courtney berbentuk hati. Larik “forever in debt to your priceless advice” yang berarti “berutang selamanya atas nasihatmu yang sangat berharga” jelas dipersembahkan untuk Courtney, larik ini sejatinya berasal  dari sebuah surat yang ditujukan Cobain untuk Courtney Love; “I am eternally gratefful for your priceless advice” yang berarti “aku terus menerus berterima kasih atas nasihatmu yang sangat berharga.” Ditambah dengan larik “I wish I could eat your cancer when you turn black,.” (Kuharap aku bisa memakan kankermu ketika kau menghitam,.”  yang merupakan cara paling rumit yang bisa diambil penulis lagu manapun dalam musik pop untuk mengatakan “I Love You” (Cross, 2001: 308, 311) menggambarkan bagaimana Cobain bersikap pada perempuan (dalam hal ini, istrinya.)

Bagaimana ia (Cobain) memperlakukan perempuan (dan dalam konteks hubungannya dengan Courtney khususnya), berbanding terbalik dengan banyak gambaran perlakuan laki-laki atas perempuan yang diungkap De Beauvoir dalam Second Sex – Fakta dan Mitos. Misalnya, banyak laki – laki yang menegaskan bahwa perempuan setara dengannya saat mereka (laki-laki) dalam keadaan senang dan tidak menuntut apa-apa dari perempuan. Sementara pada saat yang bersamaan mereka akan mengatakan bahwa kaum perempuan tidak akan pernah setara dengan laki-laki sehingga berbagai tuntutan perempuan akan sia-sia saja.[3]

Dalam kaitannya dengan seks, Cobain punya cara pandang sendiri. Ia dan Krist Novoselic (Bassist Nirvana) termasuk orang yang konservatif dalam memandang hubungan antara pemain (band) dan penonton. Banyak anak band yang motivasi bermain musiknya hanyalah untuk mendapatkan perempuan, dan mereka menolak segala tindakan ‘mengambil keuntungan’ dari gadis-gadis groupies. Cobain bertentangan dengan rekan band-nya saat itu, Jason Everman yang diketahui telah ‘meniduri’ seorang penonton ccewek selepas konser.[4] Dan berujung pada didepaknya Jason dari Nirvana.

Memang ini bertentangan dengan kelakuan Kurt Cobain pada masa remajanya di mana ‘pengalaman seksual pertamanya’ dengan seorang gadis yang agak terbelakang. Ia dan teman-temannya pernah membuntuti gadis itu hingga ke rumahnya. Dan ketika teman-temannya sudah pergi, ia tetap tinggal. Ayah gadis itu sempat mengadu ke pihak sekolah kalau anaknya dilecehkan dan Kurt Cobain yang menjadi tersangka. Cobain mengaku sempat diinterogasi polisi, tapi lepas dari dakwaan karena gadis itu sudah berusia 18 tahun dan secara resmi ‘tidak cacat mental’. Tapi seperti yang diakuinya dalam cacatan hariannya, ia tidak ‘menyentuh’ gadis itu. (Cross, 2001: 53)[5]

Tapi tetap saja bagi saya sikap Kurt Cobain pada perempuan boleh dikatakan patut ditiru, sebagaimana digambarkan Cross (2001: 170-172) ketika ia bergaul dengan seorang feminist punk, Tobi Vail, ia menjadi begitu terpengaruh atas pandangan-pandangan Tobi. “Belum pernah ada cewek yang begitu paham tentang musik” katanya memuji Tobi yang secara mandiri aktif menerbitkan fanzine yang sering menyuarakan frase “riot grrrl”, sebuah kode untuk nilai feminis yang dianutnya. Sebenarnya apa yang dikatakan Cobain tentang Tobi itu lebih menunjukkan kekaguman dan cintanya pada sosok anggota band Bikini Kill ini. Tetapi, bukankah itu lebih baik bagi perempuan? Dicintai karena sikap, potensi, keahlian, kecerdasan yang mereka miliki daripada disukai atas dasar kecantikan paras atau kemolekan tubuh lainnya? Bukankah yang demikian lebih menghargai subjektifitas perempuan? Lebih jauh, pengaruh Tobi juga terlihat dalam pedoman rock yang ia tulis dalam diarinya; “(1) Jangan pernah belajar memainkan instrumen musik; (2) Jangan pernah melukai cewek ketika berjoget (atau kapanpun juga).”

Sikap ini juga dapat dilihat ketika ia masih seorang remaja 15 tahun, di mana ia tidak suka dengan cara hidup ibunya (setelah perceraian) yang kala itu tengah berkencan dengan pemuda yang hanya 7 tahun lebih tua darinya (Cobain). Ia memahami jika tujuan pemuda itu hanyalah karena alasan kebutuhan fisik. Sekali waktu, ketika pulang ke rumah ia melihat ibunya bercumbu dengan pacarnya di sofa, dan ia menegur laki-laki itu “Udah, bung! Kamu nggak bisa ngapa-ngapain. Pulanglah!” (Cross, 2001: 48-49).

Dari apa yang sudah diungkapkan di atas, terutama perihal seks, kita masih perlu mengulasnya lebih dalam. Tidak perlu munafik, kita hanya perlu mengakui bahwa memang perihal seks selalu menjadi persoalan yang pelik yang mulai ‘menjangkiti’ kehidupan sosial kita di Indonesia, khususnya di Sumbawa. Secara mengejutkan Kurt Cobain memandang rendah ‘mindset’ laki-laki yang ingin mencari keuntungan dari kepopuleran. Lantas kita, dalam kehidupan kita di ‘timur’ justru berlagak demikian. Anak – anak muda, remaja, berkeliaran dan sudah mulai ‘pintar’ untuk menipu, merayu, dan ‘meniduri’ gadis-gadis. Apa kiranya yang menjadi penyebab dari semua ini? Di barat, amerika khususnya hal seperti ini bukanlah suatu hal tabu, tapi ini di Sumbawa? Lalu apakah ini yang namanya kemajuan? Jika remaja dan anak-anak muda kita sudah pintar ‘tidur bareng’, bisakah kita menyebutnya kemajuan? Bagi saya ini Dekadensi! Dan apakah kita akan membiarkan itu terus terjadi begitu saja?

Dalam banyak film produksi Hollywood, ‘virginitas’ (keperawanan/keperjakaan) dicitrakan sedemikian rupa sebagai kondisi yang ‘memalukan’ untuk dimiliki seseorang. Siswa/i SMA atau mahasiswa/i, dicitrakan sebagai orang-orang yang ingin segera melepas ‘virginitas’ mereka. Dalam kalangannya, remaja dan anak-anak muda itu akan lebih bangga dan lebih merasa hebat jika mereka sudah melakukan ‘ritual pelepasan virginitas’ mereka. Apakah ini yang kemudian dibawa perkembangan zaman ke tempat kita di ‘timur’ ini? Yang menyebabkan banyak kamar kost menjadi ‘kuil’ tempat berlangsungnya ‘ritual pelepasan virginitas’ itu?

Entah apakah ‘keinginan untuk menonjol’ atau mendapat ‘pengakuan dari kawan-kawannya’ yang menyebabkan remaja dan anak muda kita; laki-laki kemudian ‘mencerdaskan’ dirinya dengan ‘retorika’ dan ‘rayuan’ untuk dapat ‘menaklukkan’ perempuan. Atau memang perempuan juga mendapat ‘keuntungan’ dari hal itu? Persoalan seks, libido, desire, rasanya perlu penelusuran yang lebih dalam. Tapi untuk mendapatkan kesimpulan sementara, saya akan mengatakan bahwa baik laki-laki maupun perempuan yang terjebak dalam gaya hidup ‘seks bebas’ ini, khususnya di Sumbawa, keduanya sama-sama terjebak dalam ‘ketidak mampuan’ mengkoneksikan atau mengatur dialog antara hati, akal, dan nafsu, serta gagal atau bahkan enggan mengedepankan imannya. Sejujurnya saya berusaha menghindari untuk mengaitkan seks dan iman. Tetapi tetap saja keduanya akan terkait, namun saya tak akan membahasnya lebih jauh. Mari kedepankan logika saja, adakah keuntungan lain (selain kepuasan, ini pun kalau dapat) yang didapat perempuan dari ‘ritual pelepasan virginitas’ dan ‘hubungan  seks di luar nikah’ yang terus dilakukan? Logikanya, mereka yang menikah saja, masih mendapat stigma buruk setelah bercerai (janda), apalagi yang belum? Saya bertanya, apa mau? Mau puas? Mau diakui? Bukankah pengakuan atas ‘itu’ hanya bisa didapat dari kalangan terbatas?

Atau jangan-jangan kita bukannya maju, tapi kembali ke zaman dulu, sebagaimana yang De Beauvoir (1989) tuliskan tentang mitos – mitos yang menyebabkan banyak ritual ‘pemerawanan’ terwujud di masyarakat;
Motif sesungguhnya di balik pengambilan keperawanan ini sebenarnya berbau mistik. Masyarakat tertentu beranggapan bahwa di dalam vagina terdapat ular yang akan menggigit laki-laki begitu selaput dara pecah; sebagian lagi menghubungkan darah keperawanan dengan darah menstruasi yang sehingga dapat merusak kejantanan laki-laki. Dari bayangan-bayangan ini tercerminlah pemikiran bahwa prinsip-prinsip keperempuanan menjadi lebih kuat dan lebih mengancam bila semuanya masih utuh. Ada banyak kasus di mana pengambilan keperawanan ini tidak dipertanyakan sama sekali, misalnya, seperti diuraikan Malinowski, gadis-gadis penduduk Pulau Trobriand tidak ada yyang perawan karena permainan seksual sudah diperbolehkan sejak mereka masih kanak-kanak. ... Ada lagi di mana pengambilan keperawanan dilakukan pada usia puber oleh perempuan yang lebih dewasa dengan menggunakan toongkat kayu, tulang, atau batu, dan menganggapnya sebagai operasi biasa. Ada lagi yang lebih ekstrem dan primitif, gadis muda bila menginjak masa puber harus menjalani inisiasi di mana ia akan digelandang beramai-ramai oleh para laki-laki menuju ke luar desa dan di sana ia diperawani secara brutal. Ada juga yang “menawarkan” keperawanan ini kepada orang asing yang kebetulan lewat di daerah mereka, baik karena adanya pemikiran bahwa mereka tidak alerg terhadap bahaya mana yang tampaknya hanya berbahaya bagi laki-laki suku tersebut, atau persoalan bahwa setan-setan akan dibiarkan ada pada orang asing tersebut. [De Beauvoir, 2016: 219-220][6]

Barangkali demikian? Atau mungkinkah masyarakat kita––khususnya laki-laki sekarang memang ‘masih’ dalam keadaan ragu-ragu? Ragu di antara ketakutan dan nafsu berahinya, ketakutan akan sebuah kekuatan yang tak terkendali––perempuan––dan keinginan untuk menguasainya adalah pemikiran yang akhirnya melahirkan mitos keperawanan., yang kemudian menyebabkan banyak ritual ‘pemerawanan’ tadi.

“Dalam masyarakat patrilinear” kata De Beauvoir, “laki-laki menjadi penguasa perempuan; dan semua kekuatan paling menakutkan dan paling sulit ditaklukkan pada binatang atau pada benda-benda lainnya menjadi simbol kualitas yang sangat berharga bagi pemilik yang berhasil menjinakkannya.” Karena laki-laki sudah berhasil menaklukkan alam yang liar (lewat berburu, msialnya), ia juga berhasrat untuk menaklukkan dan memiliki “perempuan secara utuh, lengkap dengan kekayaan sari kewanitaannya.” lanjut De Beauvoir. “Dan bagi seorang laki-laki tidak ada sesuatu yang menarik untuk dimiliki melebihi sesuatu yang belum pernah dimiliki orang lain, karena dengan demikian penaklukannya merupakan peristiwa yang unik dan berkesan.” Meski demikian, “keperawanan hanya menjadi daya tarik erotis hanya bila dihubungkan dengan kemudaan.” terang De Beauvoir. Masuk akal, coba saja pikirkan istilah “Perawan Tua”.

Bagi saya, keinginan untuk ‘menguasai perempuan’ ini adalah bonus yang diperoleh laki-laki (terutama di tempat di mana seks pra-nikah masih dianggap tabu) setelah ia berhasil memerawani seorang perempuan. Alasan utama tetap saja nafsu berahi dan ‘niat cabul’. Dan kemudian, keinginan menguasai bukan lagi keinginan, itu akan tergapai sekaligus jika ‘niat cabul’ sudah dilaksanakan. Di tempat di mana masyarakat masih menganggap tabu ‘seks pra-nikah’, orang tua, maupun calon suami masih tetap menghendaki calon pengantinnya adalah perempuan yang suci––masih perawan. Dengan demikian, sulit bagi perempuan untuk mendapatkan penerimaan jika ternyata ia sudah tidak lagi perawan. Dengan ‘memerawani’ seorang perempuan, selain memuaskan hasrat seksualnya, seorang laki-laki mendapat bonus ‘kepatuhan’ dan ‘ketundukan’ dari seorang perempuan. Perempuan jadi terpaku pada laki-laki yang justru telah ‘melukai’nya itu. Hubungan seks; ‘pemerawanan’ atau ‘persetubuhan’, dalam konteks ini adalah cara yang digunakan laki-laki untuk memenangi hegemoni, dan mengukuhkan dominasinya atas perempuan.

Yang terjadi kemudian hanyalah penindasan oleh laki-laki atas perempuan yang ia ‘nodai’ tadi. Laki-laki tetap dapat melenggang tanpa beban, malah dengan ‘kegagahan yang bertambah’, dengan kepongahan, yang sejatinya salah. Sementara di sisi lain perempuan terpaku, terdiam tetap ‘di samping’ ‘Sang Penakluk’. Seluruh energinya kemudian difokuskan untuk mempertahankan hubungannya dengan ‘sang penakluk’. Ia tak lagi bisa cerewet, atau terlalu banyak menuntut ini itu, sebab ia takut jika terlalu banyak mau, ‘sang penakluk’ akan jengkel, bosan, dan marah, dan jika demikian kemungkinan ‘sang penakluk’ itu pergi meninggalkannya akan jadi semakin besar. Tidak ada keuntungan yang didapat perempuan.

Ah.. pada akhirnya kita hanya bisa mengeluh atas apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan atas apa yang terjadi di sekitar kita ini.

Tapi bukan saatnya untuk menyerah. Kita harus berjuang menyadarkan kawan – kawan kita. Untuk tidak lagi terjebak dalam ‘lingkaran’ itu, lingkaran kebablasan yang cukup bodoh. Meneruskan ‘emansipasi kartini’, menyuarakan feminisme, dan sama – sama belajar untuk menghndari kondisi kebablasan yang cukup bodoh itu. Pada akhirnya, saya harus berkata bahwa sikap Cobain terhadap perempuan seperti yang dijelaskan di atas memanglah pantas ditiru. Tetapi pola tertentu seperti seks pra-nikah yang ia jalani dengan beberapa pasangannya, tidak patut ditiru dan dipraktekkan oleh kita di tempat kita, di mana hal itu melanggar nilai dan norma yang dianut masyarakat.

Terakhir, untuk perempuan-perempuan yang tentu saja cantik, dalam momen seperti sekarang ini (IWD – Hari Kartini), teruslah pupuk semangat untuk terus belajar dan belajar untuk yang terbaik bagi dirimu, kaummu, bangsamu, dan sekalian alam. Kuatkan solidaritas antar sesama perempuan (na sekatan tau sawai sih bekepa, owe..), dan bersama laki-laki yang pantas, yang bisa membantumu untuk menemukan ‘siapa dirimu’ dan ‘untuk apa hidupmu’ yang sejati. Ingatlah pesan Roger Waters; “Together We Stand, Divided We Fall.” yang punya makna sama dengan salah satu frasa Indonesia; “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.”
Wassalam.

Plackeinstein – 2017, April 04.


Bacaan Lanjut
Cross, Charles R. 2007. Heavier Than Heaven, Yogyakarta. Harmonia.
De Beauvoir, Simone. 2016. Second Sex: Fakta dan Mitos, Yogyakarta. Narasi–Pustaka Promethea.
–––––––––––––––––– 2016. Second Sex: Kehidupan Perempuan, Yogyakarta. Narasi–Pustaka Prmethea.
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta. LkiS.



[1] Simone De Beauvoir menerangkan gagasan ini dalam tulisannya (Second Sex – Buku I – Fakta dan Mitos, hal. x) “Jika fungsinya sebagai perempuan tidak cukup untuk mendefinisikan dirinya, seandainya kita juga tidak mau menjelaskan keberadaan dirinya melalui “feminisme abadi”, dan seandainya kita pun mengakui, untuk sementara, bahwa kaum perempuan memang ada, maka kita harus menghadapi pertanyaan: apakah permpuan itu? ... jika saya ingin mendefinisikan diri saya sendiri, hal pertama yang harus saya katakan: “Saya adalah seorang perempuan”.
[2] Lihat Eriyanto, Analisis Wacana, 2001. Hal. 118, 134,150-156,dst.
[3] Lihat De Beauvoir (1989), Second Sex – Buku I – Fakta dan Mitos, 2016. Hal xxvi
[4] Lihat Cross, Heavier Than Heaven – Biografi Kurt Cobain, 2001 hal 147.
[5] Lihat juga Brett Morgen, Cobain – Montage of Heck, Dokumenter, 2014.
[6] Second Sex – Buku I – Fakta dan Mitos, 2016.

Komentar